Jumat, 14 April 2017

Kerana Menulis itu Menyenangkan


Oleh : Ainayya Ayska

Orang bilang, menulis itu susah
Kerananya ia perlu bakat yang harus diasah

Orang kata, menulis itu mudah
Tinggal bagaimana kita, berhenti atau terus melangkah


Jika ditanya, "Ainayya, bagimu, menulis itu mudah atau susah?"

Entah. 

Kawan, 
Menulis itu menyenangkan. Ketika kita menyukainya.
Tak peduli sesusah apa itu kegiatan, kalau kita suka duluan, sejuta kata, insyaallah kan lolos begitu saja untuk kita mampu tuangkan.
Tiada bosan walau harus menghabiskan waktu berjam-jam. 

Menulis itu asyik, ketika kita terlebih dulu menikmati.
Insyaallah, ketika menulis rasa ringan tanpa beban. Lepas. Bisa mencipta kerinduan. #eeaaa

Jangan dipaksakan, santai aja. Supaya kita, (harapnya) mampu menjiwai apa yang kita lukiskan dalam kata. Ngalir gitu aja.

Menulis itu perjuangan.
Selalu melalui berbagai tahapan hingga karya yang kita hadiahkan, nampak keindahan. #Satu impian, satu pengharapan. 
Mula-mula (mungkin) hasil kurang maksimal terkadang, parahnya hancur memalukan. Berbalik arah dari yang pernah kita angan. Merasa sayang, buang waktu berjam-jam hanya untuk satu tulisan yang terbuang.

Pernahkah kau rasa macam tu, Kawan?

Kawan,
Jangan menyerah dan tersenyumlah, ketika karya yang berpayah kita buat dibilang sampah.

Seseorang cakap, "hasil tak kan pernah menghianati proses."

Kawan,
Jangan berhenti walau karyamu dikata miskin diksi.
Untuk sejenak mungkin kita sakit hati.
Sebagaimana kita tahu,
Komentar orang macam-macam.
Penilaian mereka beragam.
Untuk itu, kita butuh hati lebih keras dari berlian.

#Ehm, jadi inget ama tulisan lalu tentang lebih keras dari berlian.
Ehm, baiklah, kembali ke pembahasan.

Kita mungkin pernah tersinggung ketika orang cakap, "tulisan macam apa ini? Membosankan. Tidak ada twisnya. Terlalu biasa. Terlalu bertele-tele." 

Juga berbagai kalimat menyesakkan lainnya.

Terlebih jika kita ditanya, "sudah berapa banyak buku yang kau baca? Sudah berapa banyak buku yang kau punya?"

Aduh, untuk sejenak mungkin kita marah atau apalah. Merasa seakan karya kita tiada harga walau sekata, eloklah.

Baiklah.
Tak mengapa. Akan menjadi indah ketika setiap komentar sepedas apa mampu menjadi energi untuk kita, melukis karya.
Tak mengapa, kerana memang, coretan itu tak sekadar satu warna.

#Ehm, Ainayya kenapa jadi teringat dengan tulisan coretan satu warna, yah?
Baiklah, baiklah. Maafkan. Kembali ke pembahasan. 

Kawan,
Yakinlah. Diksi bisa kita perkaya, berbagai cara bisa kita upaya. Salah satunya dengan lebih banyak membaca.

Konsisten latihan juga perlu. Tidak cukup hanya dengan membaca. 
Jadi, kita juga butuh aksi. Latihan tiap hari. Insyaallah tak akan rugi.
Senior kata, seorang penulis butuh konsisten, disiplin, tekun dalam menulis. Tak selalunya bergantung pada bakat.
Jadi, jangan khawatir. Jangan kepanjangan berpikir. Mulailah menulis. 

Menulis bisa di mana dan kapan aja. Kita sendiri yang tahu kapan harus bisa menulis. Kerana setiap kita, kesempatan itu tak sama. 

Untuk sejenak mungkin kita pernah bertanya, "nulis apa, yah, ni hari?"
Menurut yang pernah Ainayya jalani, Ainayya nulis apa aja. Apa yang terlintas langsung dituang tuntas. Mana ada kesempatan, langsung bikin coretan, sayang kalau dilewatkan. Takutnya kelupaan. Hilang. 

Atau mungkin pernah ragu, "nanti kira-kira ada yang baca, engga, yah?"
Ainayya sendiri belajar untuk yakin, bahwa setiap tulisan punyai pembaca dan peminatnya masing-masing.
Jika si A, si B, si C, tidak suka kan karya kita, Insyaallah masih ada si D, E, F begitu menunggu lukisan kata kita selanjutnya.
Ehm, percaya. Setiap kata yang kita renda pasti ada pembacanya. Minimal, kita sendiri yang baca dan suka. Ehm. 

Atau bisa jadi berpikir, "macam mana jika tulisannya dikata begini, begitu?"
Ehm, setiap penulis selalu punyai gayanya masing-masing. Itu yang pernah Ainayya ketahui. 
Yang terpenting kita berani aksi, tanpa keberanian, 'mungkin' mimpi itu tak kan pernah terealisasi.
Kalau ada krisan, kita belajar tuk terima itu dengan lapang. Setajam apa itu komentar, Insyaallah engga ada ruginya. Dan kalau bisa, semoga setiap krisan sepedas apa tak menyurut semangat kita untuk terus berkarya. 

Ehm, untuk sejenak mungkin kita galau, baper ketika itu krisan tak sedap di indera. Tak apa, untuk kebaikan selanjutnya.
Setiap krisan yang masuk, kita nak pilah pilih atau semua kita angkat, terserah kitanya mau gimana.

Dan yang engga kalah penting, temukan alasan 'mengapa kita harus menulis?'
Atau, 'apa tujuan kita menulis?'
Utamanya, niat. 
Selain daripada itu, semoga kita mampu menyelipkan hikmah pada apa yang kita sampaikan lewat tulisan. Sehingga karya yang seapa sudah kita usaha, tak kan tersia.

***

Okey, Kawan. Rasanya cukup sekian. Bila ada tulisan yang kurang ahsan, jika ada lisan yang tidak berkenan, tolong dimaafkan. Ainayya juga manusia biasa yang tak lepas dari kealpaan.

Jazakumullah khairan sudah berkenan meluangkan waktu untuk sekadar membaca coretan singkat tak berarah dari Ainayya ini. Lompat sana lompat sini. Seakan tiada kejelasan yang pasti. 

#Salam dari si pemula
#Semangat untuk bisa 

1 komentar:

  1. klo yg biasa kaka dengar justru sebaliknya, menulis itu tidak butuh bakat, hanya butuh banyak berlatih :)

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...