Kamis, 13 April 2017

Takdir Sebuah Rasa (15)


Oleh : Ainayya Ayska

Ayska menyita laptop itu dari tangan Farhan. Jarinya lincah klik sana-sini membuka lembar kerja microsoft word. Terperangah. Terpancing amarah. Tangannya cepat mengangkat laptop itu. Dengan niat membanting computer portable tersebut.


Tapi tidak. Farhan cepat menahan. Menyelamatkan nyawa benda tak berdosa itu. Menjauhkan dari jangkauan Ayska. Dengan kondisi jiwa yang entah sudah bagai apa, sangat tak baik jika 'mereka' berada di dekat gadis itu.

Sebuah karya yang cuba Ayska rancang, kini hancur berantakan. Tak lagi berbentuk. Hah. Lebih buruk daripada itu. Naskah indah (setidaknya menurut ukuran seorang Ayska) hilang sudah.

Terus menyalahkan Farhan tak akan pernah menyelesaikan persoalan. Memaki itu pemuda tiada apa. Hanya buang energi percuma. Sia-sia. Adakah dengan meleja skenario itu kan balik semula? 

Bukan salah Farhan sebetulnya. Lebih tepat jika khilaf itu ia buat. Mana pemuda itu tahu kalau karya, yang tanpa sengaja ia musnahkan sangat berguna untuk seorang Ayska? Sulit dipercaya. 

Lihatlah! Gadis itu mendiamkan tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Baiklah. Akan cuba Farhan buatkan. Sebagai ganti atas kesalahan tanpa kesengajaan. Namun percuma. Ia merasa tak bisa. Semua tak kan mengubah apa. Ia tak selihai Ayska dalam mengolah kata. Mungkin hanya akan tersia.

Baiklah. Farhan menyesal. Merasa bersalah. Berulang pinta maaf. Berulang bilang, 'cobalah katakan pada Kaka, harus apa Kaka untuk menebus kesalahan itu?'

Tapi tidak. Ayska terus diam. Tak satu ucapan terlafadzkan. Kembali gadis itu ke dalam. Membiarkan ia seorangan, di taman. 

Dalam diam Ayska menangis. Baiklah. Abaikan soal ini. Berpuluh halaman yang telah ia tulis, habis. Tertepis. Cuba mengingat. Membuat coretan. Frustasi. Dengan terpaksa, ia merubah tema. Mana bisa mengingat semua? Biarlah. Outline? Lupakan soal outline. 

Menyerah. Sudah. Jarinya tak lagi kuat mengetik. Memorynya terasa buntu tuk bisa temukan ide baru. Seakan tak nak selesaikan. Biarkan mengambang bersama angan tak kesampaian.

Bukan soal itu. Lebih daripada naskah yang memancing amarah. Ayska, dalam ketidaktahuan (mereka) bahkan sudah marah sebelum naskah itu musnah. 

Malam masih panjang. Namun mata lelah itu tak nak terpejam. Memikirkan segala kemungkinan tanpa jawaban. Mencari alasan tuk mengusir setiap yang menyakitkan.

Gagal. Tak sesingkat itu ia bisa. Ketika luka selalu butuhkan waktu untuk sembuh. Tatkala perlukan masa tuk balik semula. Ingin rasa disudahi saja. Mengganti tema. Bila ditanya, 'mengapa?' , telah jauh ia siapkan jawabnya.

Baiklah. Untuk sejenak saja ia berduka. Larut dalam luka yang tak seharusnya adalah percuma. Terlalu mahal itu air mata. Terlalu berharga untuk sesuatu yang tersia.

Ayska bangkit. Melangkah meninggalkan kamar menuju balkon rumah. Memandang indah langit gemintang. Menawarkan sejuta senyuman untuk mereka yang kelukaan. Tak peduli seberapa dingin udara malam, sama tak pedulinya ia pada, satu karya yang pernah dirancang.

Akhir bahgia itu telah tiada. Esok telah pun berubah warna. Masih banyak cerita disana. Setia. Selalu ada sejarah untuk setiap kisah. Meski tak selalu bersudah indah. Biarlah. Setiap rasa kan mendapati muara. Setiap doa yang terlafadz pasti kan terbalas.

Cahaya kemerahan di langit timur tak mengusik ketenangan. Ayska ketiduran. Keberadaannya di sudut kamar rumah kedua ini sungguh mengkhawatirkan. Teduh wajah itu. Seakan ada satu senyum menghias rupa. Tanpa ada lagi beban. Tidak. Bukan begitu. Lebih daripada rasa itu disembunyikan. 

Meski pada satu kenyataan tidaklah demikian, Kawan! Lihatlah ayah, ia nampak begitu lelah. Setelah khawatir mencari keberadaan si permata hati tadi, kini kecemasan itu bertambah. Ketika zuriatnya ditemukan tidur begitu tenang. Tetap diam meski dibangunkan berulang.

Tanpa berpikir dua kali, lekas ayah membatalkan semua agenda hari ini. Tidak ada acara lebih penting untuk ayah selain Ayska. Dalam diam, ada yang ayah sesali. Entah apa yang mengganggu sang putri hingga ia tak sadari. Obat ditemukan tak bertuan. Pemilik kamar tak ada di ruangan bernuansa riang. Astaghfirullah. Untuk kesekian kali ada sakit tak terlihat.

Sudah sering dokter berpesan. Untuk gadis itu tak boleh banyak pikiran. Menjaga kondisi hati untuk stabil bahagia ternyata tak mudah. Tak boleh berlama untuk coba berkawan dengan udara malam. Susah untuk bersahabat. 

Ayah merasa diri telah lalai menjaga. Meski Ayska tidak senang mendapati ayah menyalahkan diri setiap ia terpaksa harus berada di sini. Berhari-hari.

Kerana luka Ayska terlupa. Bukankah ia sudah bertekad sebisa ia jaga kondisi, walau apa yang terjadi pada hati. Ia terlalu susah menguasai diri ketika emosi. Sehingga hal yang seharusnya dilakukan dengan sengaja ia abaikan. Seperti semalam. Untuk kesekian.

Di sudut ruang ada Farhan. Dengan khusyuk bersama buku bacaan. Sesaat ia melihat usai siuman. Mata itu tak sempurna terbuka. Bahkan bila ada pilihan ia tak nak terjaga. Namun entah mengapa, kerongkongan terasa kering. Dahaga itu memaksa untuk ia segera membuka mata.

Tangan itu lemah terangkat. Menyingkirkan alat bantu pernapasan barang sejenak. Farhan, ketika mendapati ada yang bergerak dari ekor mata segera menoleh. Terkejut. Bukan kerana tak suka mendapati kini Ayska sadarkan diri. Melainkan sebab gadis itu, dengan kondisi lemahnya memaksakan untuk bangun.

Farhan melompat, mendekat. Tak peduli buku itu terlempar ke sembarang tempat. Melarang Ayska, menyuruh untuk gadis itu tak banyak bergerak. Tanpa bertanya, Farhan mengerti betul apa yang ingin Ayska perbuat. Mata indah itu terus mengarah pada segelas air minum di meja dekat ranjang rawat.

Baiklah. Farhan membantu Ayska untuk bersandar. Membantu gadis itu meminum air hingga hilang dahaga.

Iba rasa melihat kondisi Ayska. Tetapi, Farhan bisa apa? Nak ringankan sedikit beban bahkan ia tak kuasa. Bukankah kemarin ia baik-baik saja? Lantas, mengapa kini adanya?

Lihatlah! Kini gadis itu kembali damai. Alat bantu itu balik semula. Ia masih terlalu lemah untuk bicara. Lemah untuknya bertanya, 'di mana ayah?'

Tak kuat untuk mata itu terjaga lebih lama. Sakit yang mendera memaksa untuk kembali pejamkan mata.

Farhan bergeming untuk beberapa saat hingga ia putuskan kembali ke sofa. Memungut buku yang tergeletak di bawah meja. Berdebat dengan jiwa. Sorot mata itu menusuk tajam. Bila mungkin ada kekuatan, Ayska sudah mendorongnya jauh. Mengisyaratkan bahwa, ia tak butuh bantuan. Ia bisa sendiri kerana memang, ia harus cuba mandiri. 

Seperti hari ini, Ayska menolak tatkala Farhan menawarkan bantuan. Berulang bahkan. Ia sama sekali tak tahu kesalahan apa yang diperbuat hingga Ayska demikian. Seakan gadis itu menjauhinya perlahan. Satu pekan sudah. Sekembalinya ia dari rumah sakit, Ayska lebih banyak diam. Sok sibuk, berpura tertidur, sok merasa lupa bahwa ia, ada jadwal bertemu teman.

"Ade, cerita ini tak dilanjutin? Kapan tam–"

"Sudah tamat," seru Ayska segera hanya dengan membaca judulnya.

Niat hati mencairkan salju keegoan. Mengorek informasi tanpa menghakimi. Diabaikan Ayska adalah sesuatu yang menyakitkan. Lebih daripada satu keputusan meninggalkan si dia yang pernah terhadir sayang. Jika boleh jujur, ia lebih memilih mendapat makian daripada harus didiamkan. Sungguh. 

Ya Rahman, jikalah satu jawab mampu terhadir instan ....

"Bagaimana bisa? Bukankah sudah sepakat untuk dua tokoh ini bahagia diakhir kisah?" Farhan berkeberatan. 

"Mereka akan bahagia. Si ikhwan telah pun lebih dulu dapatkan itu rasa. Sementara akhawatnya, masih menanti. Mereka bahagia, di jalan masing-masing. Lagian, siapa yang bikin kesepakatan. Adakah kita kolaborasi atas karya ini?" timpal Ayska sinis.

Sederhana tapi tajam. Menikam. Baru kali ini Farhan rasa tak nyaman, atas setiap jawaban yang Ayska suguhkan.

"Ade kenapa, sih? Kalau Kaka ada salah, Ade–"

"Ade bosan. Tidak adakah pertanyaan lain untuk Ade jawab?" segera Ayska menyela. Menghena napas berat. Diam sejenak. "Sudahlah. Ade lelah. Kaka juga pasti masih ada sibuk, bukan? Tugas Ade udah selesai. Ade nak pulang." 

Gadis itu bangkit. Mengambil napas panjang. Melangkah pergi. Lamban. Buku tugas, laptop, dan peralatan belajar ditinggal.

Farhan menghela napas. Diam memandangi Ayska yang perlahan menghilang. Biarkan. Biarlah bila saat ini Ayska tak nak bicara. Ia tak kuasa memaksa atau kondisi Ayska balik semula.

"Maaf ...."

***
SEKIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...