Kamis, 22 Maret 2018

Sariawan

Oleh : Ainayya Ayska

“Hei, Fathan. Apa yang terjadi dengan Ayska? Aku perhatikan beberapa hari ni nampak ada yang berbeda. Tak biasanya ia pendiam."

Seorang kawan mendekat. Mencari jawab atas rasa penasarannya yang menjebak. Kawan yang lain turut takzim menunggu penjelasan. Sementara Fathan hanya tersenyum sambil memberi isyarat menunjuk bibir, ‘sariawan.'


 Pagi, entah hari ke berapa semenjak Ayska, si gadis manis yang bawelnya terkadang tak tertolong itu menjadi pendiam dalam singkatnya masa. Dah bagai cuaca yang datang tanpa diduga.

Betapa, tidak? Apa kalian tahu, entah apa pasal mulutnya terluka. Sariawan menyerang bahkan tanpa mendapat perizinan sama sekali. Itu menyakitkan, Kawan. 

Terlebih ketika gadis itu harus menahan diri untuk tidak;  banyak cakap, makan, minum, bahkan tersenyum. Ah, ya, tersenyum. 

Sariawan ini betul-betul menyiksa. Ayska bahkan tak sanggup menahan sakit yang ditimbulkan. Apa kalian tahu, sesore ia menangis tak henti. Kakak, bahkan Fathan sudah mencoba untuk membujuknya. Tapi nihil. Tak berhasil. Entahlah.

Dan sekarang, kawan-kawan menggodanya untuk bisa tertawa? Sulit dipercaya. Apa mereka tak berpikir kali kedua? Untuk bicara saja ia tersiksa, macam mana nak tertawa? 

“Apa kalian tidak bisa diam atau aku yang harus membuat kalian diam, hah?"

Adalah suara seorang kawan menggemparkan seisi ruang. Menjadi hening untuk beberapa detik ke depan. 

“Apakah sebelumnya kalian tidak pernah merasakan sariawan?"

Wakil ketua kelas itu melanjutkan kalimatnya. Barulah mereka berhenti menggoda Ayska.

Sejak kemarin ia mengeluh lapar. Tidak berani mengunyah makanan. Apa hal pula. Kalau tak makan itu namanya mengundang penyakit lain. Dan ketika kakak berhasil membujuk, hanya dua-tiga suapan saja. Itu pun lambat sangat. Selebihnya gadis itu jauh-jauh dari semua jenis makanan. Tidak. Ia sedang tak berminat makan walau ingin. 

Minum? Harus dibantu dengan pipet. Itu pun super hati-hati. Oh, astaga. Separah itukah? 

Kawan, pernahkah kalian sariawan? Macam mana rasanya? Menyiksa? Berapa lama? 

Sakit yang Ayska derita, nyaris satu pekan tak jua reda. Tengok, wajahnya sudah pucat. Sisa tangisnya masih terlihat. Ayah memujuk mengajaknya ke dokter. Tapi anak itu bandel. Menolak. Hah. Mungkin, esok, seapa Ayska menolak, ayah tetap akan membawanya ke dokter.

Sariawan. Jangan dihanyain, Kawan. Untuk seorang Ayska, jangankan sariawan, sedikit goresan luka saja (terkadang) sudah menghambat banyak hal dari aktivitas yang ia punya. Moodnya langsung memburuk. Otaknya berhenti bekerja dan setiap tugas yang ada? Hanya dapat dipandang tanpa merasa bisa selesaikan semua. Bilapun bisa, itu pun seadanya. 

Entahlah. 

“Semoga lekas sembuh, Ayska. Fathan sudah rindu dengan canda tawamu. Kawan-kawan pun begitu."

Kawan yang tadi menggoda Ayska, mendekat lalu pinta maaf, setelah ditegur oleh wakil ketua kelas. Ayska hanya mengangguk kecil. Terima kasih atas kepedulian kawan-kawan.

Semoga esok lusa, rasa sakit yang diderita pergi jauh-jauh dari Ayska. 

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...