Sabtu, 24 Maret 2018

Teruntuk Sahabatku

Oleh : Ainayya Ayska

Apa kalian pernah meributkan sebuah buku? Apapun itu persoalannya. 

Kalian tahu, inilah yang membuat Fathan pusing memikirkan semua. Apa pasal? Ayska ngambek hanya tersebab buku. Siang tadi di kantin sekolah. 

Venus. Adalah venus yang entah apa pasal, tetiba menyambar buku itu. Ayska yang menyadari tangan seseorang, spontan menarik bukunya cepat.

Nahas. Lektur tebal bersampul biru itu tercerai menjadi dua bagian tak sama. Sisanya jatuh ke lantai. Bersepah-sepah. Astaga. Itu bacaan kesayangan Ayska. Sudah bisa dipastikan gadis itu akan murka.

“Apa kau tidak bisa sekadar bilang pinjam ama pemilik bukunya, Venus?"

“Maaf, aku kan tidak sengaja, Ayska. Kau ini berlebihan sekali." 

“Apa kau bilang? Berlebihan katamu? Hei... Bilakah Ayska yang merusak bukumu, kau tidak akan makan bawang, hah?" 

Kalau dibiarkan, kasus makin menjadi. Tanpa permisi, Fathan menarik Ayska pergi. Seisi kantin menjadi saksi. Tontonan seru. Jarang-jarang dapat pertunjukan gratisan. Daripada menjadi bahan gosip, akan lebih baik jika meminta Ayska menepi. Bila harus menjadi pelampiasan amarah pun ia tak peduli. 

Ayska bertambah marah. Menolak untuk patuh. Mengibaskan tangan hendak kembali ke kantin. Ia masih belum puas meleja Venus. Sekaligus kesempatan untuk membalas cercaan Venus padanya selama ini. Tapi, Fathan tak izinkan. Itu tak baik untuk kesehatan. 

Dan sebagai balasan, Ayska mendakwa Fathan lebih peduli Venus. Dan hal-hal tak masuk akal lainnya.

Fathan tidak merasa perlu mengoreksi. Ia tak menolak sangkaan itu sama sekali. Tersebab ia paham. Ayska marah dan gadis itu hanya ingin didengarkan, bukan mendengarkan. Nanti, ketika kondisinya sudah betul membaik, Fathan mungkin bisa bicarakan kembali dari hati.

***

“Aku tidak perlu menyeretku masuk mobil, kan, Ayska?" Fathan menoleh. Menunggu Ayska tertunduk diam di belakangnya. 

Sekolah hari ini sudah berakhir. Saatnya untuk pulang. Namun Ayska lambat jalan. Sejak keluar kelas hanya tertunduk diam. Ragu-ragu melirik. Seakan ada yang ingin disampaikan, namun tak ada keberanian. 

Fathan, dah paham. Ini kebiasaan. Kalimat yang ingin dikatakan pun telah Fathan tahu. Permintaan maaf. Hanya itu. Selebihnya, Ayska hanya butuh kesiapan untuk mendengarkan. Kerana ia paham, setelah maaf terlafazkan maka akan ada sedaftar nasehat yang Fathan hidangkan. 

Baiklah. Ayska memilih diam sajalah. Mungkin nanti sore, esok lusa, atau entahlah. 

“Ada yang ingin kau sampaikan?" Fathan masih menunggunya. 

Ayska hanya menggeleng lemah. Menghela napas kemudian melangkah. Ia lelah. Hanya ingin pulang. Nanti akan Ayska pikirkan bagaimana cara ia meminta maaf pada Fathan. 

***

Fathan tersenyum membaca pesan dari Ayska. Sebuah puisi sederhana. Korelasi antara penyebab emosi dengan permintaan maaf dari hati.

Kalimat, ‘Maafkan Ayska, Fathan. Kau tahu bukan bahwa buku itu satu diantara sekian banyak buku kesayangan Ayska. Tapi Venus merusak semua. Maaf kerana Ayska telah menjadikanmu mangsa atas kemurkaan Ayska. Kau tidak marah, bukan?'menyusul puisi yang sampai lebih dulu. 

‘Fathan. Tidak bisakah kau menjawab permintaan maaf Ayska? Kau ni menyebalkan.'

Kembali tiba pesan Ayska. Fathan tertawa. Tengok, sebetulnya anak itu niat pinta maaf, tak? Belum-belum bahkan ia sudah mengatainya menyebalkan? Astaga. Fathan tidak percaya ini. 

‘Belum-belum bahkan kau sudah mengataiku menyebalkan, Ayska. Kau ini niat pinta maaf atau apa? 😑'

Satu balasan Fathan kirimkan. Dan smartphonenya kembali berdering tak lama kemudian.

‘Maaf ..., 😔😓'

‘Tak apa, Ayska. Rehat sana. Pasti kau lelah. Makasih puisinya. Esok lusa sering-seringlah bikin macam ni khusus untukku. 😂'

‘Ish. Kau ni. 😏😒. Tak nak, 😝'

Fathan tertawa. Dan tak lama, Ayska sudah offline.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...