Kamis, 15 Maret 2018

Untuk Kak Re

Oleh : Ainayya Ayska

Adalah kak Re si penjaga ruang baca di sekolah. Selalu marah (ups) ketika ada anak membuat masalah di ruangan yang seharusnya kita engga bikin ulah. Damai, ah, ma kaka Re. Biar menjadi satu dari sekian peserta kesayangannya.

Kak Re. Salah satu founder Komunitas Batu yang paling kece. Meskipun kakak yang lain tak kalah kece. Jadi untuk kak tim yang lain, please. Jangan pada lebay (ups) maksudnya jangan pada sedih hati. Kalian juga kece kok. 


Apa yang kak Re suka bilang, 'setiap kita punyai kesibukan. Waktu yang ada sama 24 jam. Yang membuat berbeda adalah pengelolaan masa. Jadi ....'

Begitulah. Dan masih banyak yang kak Re ajar. Dan Ayska? Si manis ini sibuk menjadi pendengar. 

Adalah tulisan Ayska pertemuan kesekian di kelas offline mereka. Membuat gemuruh ruang seketika. Meluas hingga di kelas online. Bertahan nyaris sepekan.

Pasalnya, tulisan ini menceritakan kak Re. Nyaris tujuh halaman A4. Fathan bahkan terheran. Turut penasaran, apa yang membuat gadis itu tertarik menulis tentang si penjaga perpustakaan?

"Hei ..., bahkan kau tak pernah membuat tulisan tentang Fathan, Dek!" Celetuk seorang kawan. Teman kuliah kak Re. Kabarnya sekelas.

"Belum saja, Kaka!" Kilahnya sambil mengibaskan tangan di udara.

Pertanyaan itu tak pernah terjawab kerana memang tak pernah diajukan. Meski banyak jiwa penasaran. Namun soalan itu tak pernah tersampaikan. Oleh lisan. Pernah ini terlempar via tulisan. Punya kawan. Sayang, yang bersangkutan tidak pernah peka. Jadi, berlalu saja tanpa ada tanya, tanpa merasa. 

Jika ada penghargaan khusus atas apresiasi seorang peserta pada tim komunitas ini, Ayskalah juaranya. Anak itulah peserta pertama yang berkesempatan.

Itu yang pernah dikatakan satu-dua dari sekian pengelola komunitas. Alhasil, pertemuan berikutnya terpilih ada setidaknya 5 anggota mendapat sertifikat pun tiga buku dari panitia. Satu buku salah karya seorang tim yang telah terbit, dua yang lain boleh pilih. Bebas. Asal jangan yang diatas seratus lima puluh ribu saja. 

Ayska paling antusias. Tak tanggung-tanggung menenteng dua buku tebal. Yang akhir-akhir ini hanya bisa dilirik sebab uang jajan belum cukup untuk memilikinya. Tadinya Fathan nak belikan waktu lalu. Tapi—

"Fathan, jangan! Kali ini biar pakai uang jajan Ayska saja." Gadis itu menolak. "Selama ini Fathan selalu yang bayarin, bukan?"

Fathan tertawa. Habis diomelin kak Alnaira, “astagfirullah, Ade. Menguras kantong Fathan? Iya?"

"Tak apa, Kak Alnaira. Bukan Ayska yang pinta. Fathan tak pernah berkeberatan menguras kantong untuk Ayska. Toh yang dibelanja bukan yang aneh-aneh. Selalu apa yang memang bermanfaat." 

Itu yang Fathan katakan pada kak Alnaira. Anggap bahwa ia sedang mentraktir adiknya yang manja. Bukankah keinginannya untuk punyai adik selama ini tidak terpenuhi? 

"Alhamdulillah, Fathan. Kau tak punya adik. Ayska engga bisa bayangkan harus berebut perhatian seandainya kau punya adik. Ah, jangankan dekat, kenal saja belum tentu, bukan?" Komentar Ayska sekenanya. (Meski engga pernah sungguh-sungguh) 

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...