Jumat, 06 April 2018

Terlupa

Oleh : Ainayya Ayska 

Terlupa. Ada yang terlupa oleh Ayska. Entahlah. Ia bahkan tak tahu apa yang terlupa. Namun benar ada. Iya, benar ada. Ada yang terlupa. Ada yang hilang dari memori otaknya. Entahlah. Keras ia berupaya mengingat. Namun tak jua terjumpa. Baiklah. Lupakan bagian ini. Paragraf pertama yang entah mengapa mengalami pemborosan dan pengulangan kata.

Oh, apalah nii?  Mengapa bisa? Entahlah. Ada banyak hal terpikir oleh Ayska. Tapi apa saja? Tidak. Itu tidak masuk akal. Dan memang betul-betul tak masuk akal. Gadis itu bahkan tak paham apa yang ia tuliskan. Tak paham ia nak menuang apa pada catatan yang entah semenjak kapan masih tak berubah warna. Putih. Kosong. 

Ayska tak pernah sepayah ini sebelumnya, bukan? Lantas, apa sekarang? 

Fathan. Adakah satu alasan? Benarkah demikian? 

Ada apa dengan Fathan? Apa hal mereka ada masalah? Entah. Sudah nyaris seminggu, mereka tak jumpa. Tak ada komunikasi pula. Jadi? Adakah benar persoalan tengah menimpa? Ayolah. Menjadikan Fathan sebagai alasan atas kegagal-fokusan gadis manja itu nampaknya terlalu berlebihan. 

Entah adakah Fathan, atau Ayska sendiri yang enggan saling menyapa. Ah, mungkin Ayska si gadis keras kepala itu yang mendadak tak peduli untuk sementara masa. 

Mula, ia hanya enggan menyapa. Sekali dua. Marah bahkan ketika Fathan berniat menyapa. Gadis manja itu merajuk hanya kerna tak dibolehkan minum ice cream sementara waktu.

Macam manalah hendak minum ice cream. Anak itu bahkan demam nyaris sepekan. Bandel tak nak dibawa ke dokter. Terpaksa harus menunggu hingga demam itu balik mereda. Ketika masa berbaik hati menyembuhkan penyakit yang menjebaknya dua pekan lebih. 

Dan ketika nyaris pulih, anak itu ngotot ingin makan ice cream? Mana bolehlah. Marah sama orang serumah. Dan Fathan, terkena imbasnya. Hah. Biarlah. Sejak beberapa hari menolak jumpa Fathan yang datang nyaris setiap jam. 

Menutup telepon Fathan, bahkan akun chatnya Ayska blokir sehingga Fathan, tak dapat hubunginya. 

Menyebalkan? Tentu. Tapi tidak untuk Fathan yang memang sudah lebih dari mengerti tabiatnya itu. 

Bila merajuk, susah untuk dibujuk. Butuh waktu. Butuh alat untuk tak lagi merajuk. 

“Fathan, mengapa tak hubungi Ayska? Mengapa tak berkirim pesan? Minimal tanyakan kabar. Apa Fathan tak rindukan Ayska? Dan, ya. Bahkan kau tak singgah ke rumah barang satu jam setiap harinya? Sulit dipercaya. Kau ini betul-betul menyebalkan, Fathan." 

Lihat. Sekarang Ayska justru menyalahkan Fathan untuk semua itu. Entah angin apa yang mengantarnya untuk mengomeli Fathan. Memprotes sikap yang sebetulnya tidak Fathan lakukan. 

Hah. Anak itu benar-benar menyebalkan tingkat delapan. 

“Tidak salah, Ayska?" Fathan, yang sejak tadi membaca buku di taman sekolah menoleh. Mendapati sahabatnya duduk di sebelah bersama buku ... sialan itu. Buku yang sempat menjadi perdebatan sama venus waktu lalu. 

“Apa yang salah, Fathan? Ayska tidak mengerti."

Fathan hanya menghela napas. Untuk kemudian lebih tertarik dengan buku bacaan di tangan. Agaknya, demam sepekan telah membuat sahabatnya itu hilang ingatan. Tapi sudahlah. Tak lagi penting. 

Kawan. Bicara soal terlupakan. Apa yang sering membuat kalian lupa. Ah, tidak. Maksudnya, hal apa yang ingin kalian lupakan hingga kalian merasa bahagia. Atau hal apa yang ingin kalian lupa hingga bisa terbebas dari belenggu duka. 

Fathan, bahkan Ayska pernah mengalami keduanya. Namun yang ingin mereka bahas di sini adalah; hal indah yang terlupa. Ah, bukan. Sesuatu yang menyakitkan namun terlupakan. 

Apa? Bisakah. Tentu. Hal sesakit apapun itu, bisa terlupa begitu saja seiring berlalunya waktu. Terlupa oleh keikhlasan. Terlupa dengan memaaf. Kerana percaya, masa kan sembuhkan luka. Meski tak semudah teori yang pernah dipelajari. Meski susah, sesusah rumus... Sudahlah. Mengapa jadi bicara soal rumus coba?

Baiklah. Kembali di awal. Adalah Fathan yang selama ini membantu Ayska memaaf segala bentuk rasa menyesakkan. Hingga lambat laun, sakit itu terlupakan. Begitu saja. Hingga meski sekali dua teringat rasa itu, Ayska hanya bisa tersenyum tanpa dendam. Dan tanpa beban. Begitulah. Ajaibnya keikhlasan dalam memaaf. Hingga dendam setinggi gunung pun terlebur tanpa ada paksa. 

Ikhlas dalam memberi pun demikian halnya. Esok lusa terlupa begitu saja kerna, diri tak mengharap apa kecuali dariNya. 

“Sudah nulis belom ni hari?" Fathan menyelidik. Tak sengaja melihat Ayska bermain hp. Mengabaikan buku sialan itu tergeletak di meja taman. Melirik jam. Masih tujuh menit lagi sebelum jam istirahat usai. 

“Belom, Fathan." jawab Ayska ringan. Memperlihatkan lembar kerja ms. Word di ponselnya. Sudah satu-dua paragraf termuat. 

“Mengapa belom?" Heran Fathan mendapati. Mengabaikan dua-tiga paragraf itu. “Sudah berapa lama kau tak menulis, Ayska?"

“Iiiich, Fathan. Kau tahu bahwa selama sakit, otak Ayska bahkan ikut berhenti bekerja. Jangankan menulis, untuk berpikir saja Ayska tak kuasa. Please, Fathan. Ini juga lagi mencoba menyulam kata. Yah, semoga balik semula."

“Sudah baca buku belom? Setidaknya kau ini butuh amunisi, Ayska. Bacalah buku lebih dulu." 

“Mmm," Ayska menoleh. Berpikir. “Belom, Fathan. Malas.” 

“Hanya untuk menjawab dengan kalimat itu bahkan kau harus berpikir lama, Ayska?" 

Ayska hanya nyengir kuda. 

***

“Ayska sebal."

“Alasannya?"

“Menulis sejak kemarin tak dapat-dapat. Ya kali berkutat depan layar, bahkan satu tulisan pun belum termuat. Macam manalah ni, Fathan ...." Ayska tanpa permisi menyita buku bacaan Fathan. 

Hari Ahad. Tadi lepas dari pengajian ahad pagi Ayska ikut pulang ke rumah Fathan. Kak Alnaira dan ayah keluar kota entah urusan apa. Ayska tak peduli dan tak ingin tahu. Yang penting, uang jajannya seharian sudah penuh. Nanti agak sianganlah bisa jalan-jalan. 

Bunda (bundanya Fathan) kebetulan libur tugas. Terakhir Ayska lihat sedang berkutat dengan laporan ..., kesehatan. Gitulah. Entah. Malas bertanya, menyusul Fathan di teras depan. 

“Sejak kapan Ayska, bahkan untuk menulis satu kalimat saja kesulitan?" 

“Makanya, habitnya jangan kelamaan libur. Mempertahankan habit itu susah, Ayska. Sekalinya Ayska tidak membaca, teko idemu menguap. Kehabisan isi dan sebetulnya kau butuh amunisi. Baca buku banyak-banyak. Latihan lagi betul-betul. Jangan main hp mulu."

“Tahu, ah. Fathan gituh."

Ayska ngambek. Fathan barusan ngomelin Ayska. Anak itu bangkit kembali ke dalam. Meninggalkan Fathan seorangan. 

“Salah lagi." Keluh Fathan mengalah. 

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...